Duduk ia seorang diri di balkon meniup gelembungnya
Ada memori terkuak dalam tiap gelembung yang menari bersama angin
Mata sembabnya berusaha menangkap tiap tarian gelembung itu
Mengenang tawa, asa, serta tiap inci perjalanan yang pernah mereka tuai bersama
Mata gadis itu kembali nanar waktu gelembung-gelembungnya didera angin
Susah payah ia menarik nafas dari dadanya yang sesak sebelum kembali meniup
Satu tiupan lembut dan panjang,
Lalu puluhan gelembung kecil lahir dari lingkaran kawat di genggam tangannya yang bergetar
Ia tersenyum memandangi nafasnya yang kemudian melebur jadi satu bersama angin
"Aku kirim doa dan rindu untukmu lewat udara", bisiknya dalam hati
Showing posts with label self-talk. Show all posts
Showing posts with label self-talk. Show all posts
Monday, April 16, 2012
Tuesday, December 13, 2011
Gombalan Kertas Putih
Dear the love of my life,
It's been a while since the last time i wrote something on you.
How are you? Do you miss me as much as i do?
Aku selalu rindu menuang pikiran di atas permukaan putihmu yang menggoda. Di tengah sepi atau ramai, aku mengkhayalkanmu dan aliran kata-kata yang kuuntai di dalam kepala. Terjebak dalam rutinitas dan pikiran yang bergemuruh layaknya ombak marah selalu menjadi alasan yang menjauhkanku darimu.
Iya, alasan.
Layaknya konflik yang harus diselesaikan dengan menghadapi permasalahan secara langsung, dibutuhkan keberanian yang besar sebagai pemicu agar mampu menghadapinya.
Seperti itulah hubungan kita sekarang.
Ada takut menyeruak tatkala jemari ini berhenti menari riang. Bahkan untaian kataku pun tidak pernah ada yang sungguh-sungguh selesai kuutarakan. Seperti pelari marathon menabrak dinding tak terlihat yang membuatnya tak lagi sanggup berlari. Dinding yang sama pula yang menghentikan laju pikiran tatkala aku berada di hadapmu.
Terlalu lama aku membiarkan pikiran berkecamuk tanpa memberimu kesempatan untuk ikut terlibat. Sekarang, ketika waktu sungguh memberi kesempatan bagi kita untuk mencoba memulai kembali, untaian kata yang selama ini menetap dalam pikiran seolah menguap entah ke mana.
Aku seperti pecinta yang kikuk. Hanya mampu merindu tanpa mengerahkan segala upaya. Membuatku jadi pendusta, karena berkali-kali melanggar janji untuk mewarnai ruangmu.
Sedang kau tahu pasti bahwa di satu sudut dalam ruangku, aku selalu mendambamu.
My dear blank white pages,
Stop being so hard on me, would you?
It's been a while since the last time i wrote something on you.
How are you? Do you miss me as much as i do?
Aku selalu rindu menuang pikiran di atas permukaan putihmu yang menggoda. Di tengah sepi atau ramai, aku mengkhayalkanmu dan aliran kata-kata yang kuuntai di dalam kepala. Terjebak dalam rutinitas dan pikiran yang bergemuruh layaknya ombak marah selalu menjadi alasan yang menjauhkanku darimu.
Iya, alasan.
Layaknya konflik yang harus diselesaikan dengan menghadapi permasalahan secara langsung, dibutuhkan keberanian yang besar sebagai pemicu agar mampu menghadapinya.
Seperti itulah hubungan kita sekarang.
Ada takut menyeruak tatkala jemari ini berhenti menari riang. Bahkan untaian kataku pun tidak pernah ada yang sungguh-sungguh selesai kuutarakan. Seperti pelari marathon menabrak dinding tak terlihat yang membuatnya tak lagi sanggup berlari. Dinding yang sama pula yang menghentikan laju pikiran tatkala aku berada di hadapmu.
Terlalu lama aku membiarkan pikiran berkecamuk tanpa memberimu kesempatan untuk ikut terlibat. Sekarang, ketika waktu sungguh memberi kesempatan bagi kita untuk mencoba memulai kembali, untaian kata yang selama ini menetap dalam pikiran seolah menguap entah ke mana.
Aku seperti pecinta yang kikuk. Hanya mampu merindu tanpa mengerahkan segala upaya. Membuatku jadi pendusta, karena berkali-kali melanggar janji untuk mewarnai ruangmu.
Sedang kau tahu pasti bahwa di satu sudut dalam ruangku, aku selalu mendambamu.
My dear blank white pages,
Stop being so hard on me, would you?
Subscribe to:
Posts (Atom)