Jumat pagi.
Aku sedang mengikuti mata kuliah Bimbingan Konseling Pendidikan (BKP). Mendengarkan penjelasan Bu Ellen tentang kepribadian berdasarkan tahap perkembangan, sementara tangan kananku dengan sendirinya membuat coretan-coretan yang belakangan kukenal sebagai unconscious doodles.
Gambar Doraemon. Lucunya...
Lalu Bu Ellen bertanya, "Kalian sekarang ada di tahap perkembangan apa sih?"
"Adolescence..." jawab sebagian.
"Adolescence? Masak...?" dahi Bu Ellen berkerut.
"Young adulthood..." ralatku dan sebagian mahasiswa lainnya.
Bu Ellen melanjutkan kuliahnya, sementara aku terdiam memandangi gambar Doraemon di diktatku itu lekat-lekat.
Young adulthood? Secepat itukah?
Masih sambil memandangi gambar Doraemon-ku itu, aku terhenyak untuk beberapa saat.
Astaga... Ke mana waktu telah pergi? Rasa-rasanya baru kemarin tinggiku tak lebih dari pinggang ayahku dan terus mengoceh tanpa henti mempertanyakan pada dunia kapankah aku jadi dewasa.
Dalam satu tarikan nafas aku sudah duduk di bangku perkuliahan menyandang status 'dewasa muda'.
Siapa tahu hanya dalam satu kedipan mata aku sudah harus memikul berbagai tanggung jawab dan mengemban kewajiban untuk merealisasikan semua ekspektasi eksternal dan internal.
Aku ingat ketika aku baru masuk SMP, aku dan adik-adikku masih gemar duduk bersama setiap hari Minggu, menunggu Doraemon, kartun favorit kami. Aku tak pernah menggubris komentar tanteku, "Ih malu-maluin aja. Udah SMP kok masih suka nonton gituan."
Memang apa salahnya? Aku tak melihat alasan untuk berhenti menyukai Doraemon.
Aku tak pernah mengerti mengapa orang berhenti melakukan hal-hal yang disukainya pada saat kanak-kanak begitu mereka beranjak dewasa.
Kemudian aku melihat diriku. Aku sendiri sudah lama tidak mengikuti serial kartun yang selama 20 tahun diputar ulang itu.
Bukan, bukan Doraemon-nya yang kupermasalahkan di sini. Tapi lebih pada caraku menghidupkan waktu.
Tidak lagi duduk di depan TV menikmati sederet kartun di RCTI, tidak lagi merengek-rengek pada ayahku agar dia membawa kami bepergian, tidak lagi berlari-larian di dalam rumah bersama adik-adikku.
Apakah rutinitas dewasa telah meredam jiwa kanak-kanak dalam diri kita?
Tiba-tiba aku rindu akan itu semua.
Ketika aku masih kanak-kanak, kutemukan banyak sekali hal menyenangkan di dunia. Rasa ingin tahu dan eksplorasi bagaikan krayon warna-warni yang memenuhi lembaran waktu. Setiap hari selalu kutemukan warna dan coretan baru untuk kutuangkan dalam lembar itu. Persis seperti hukum Tabula Rasa John Locke.
Anak-anak melihat warna baru itu dengan penuh kekaguman dan excitement. Karena di mata polos mereka, semua adalah pertama kalinya.
Tidak ada prasangka, tidak ada rasa takut.
Bebas bereksperimen dengan apapun tanpa harus tenggelam dalam pertimbangan yang sesungguhnya tidak perlu.
Sedangkan aku yang sekarang, mau tak mau harus menghayati bahwa anteseden selalu disertai dengan konsekuen. Tak bisa sembarang melompat atau mencoretkan warna.
Semua tindakan harus disertai dengan pemikiran dan perencenaan yang matang, baru dilakukan.
Di mata anak-anak yang menyukai berbagai warna pada kertasnya, dunia bagaikan jutaan krayon.
Mereka tak ragu untuk menorehkan semua warnanya dalam berbagai bentuk.
Sedangkan orang dewasa harus berpikir gambar apa yang hendak kubuat? Warna apa yang akan kupakai? Bagaimana aku harus memulai? Bagaimana kalau tidak seorangpun menganggap gambarku bagus? Bagaimana kalau gambarku tidak sesuai dengan apa yang kubayangkan dalam benakku?
Terlalu banyak pertanyaan. Terlalu banyak rasa takut.
Amat bertolak belakang dengan anak-anak yang tanpa ragu membuat coretan pertamanya segera sesudah menggenggam krayon di tangan.
Seberapa besarkah effort yang diperlukan orang dewasa untuk mengembalikan excitement itu?
Di sela-sela rutinitas. Di antara masalah-masalah kehidupan.
Aku selalu meyakinkan diri dengan berupaya melihat ini semua sebagai tantangan.
Puzzle lain untuk diselesaikan.
Seandainya jiwa kanak-kanak itu tak berubah hingga manusia tumbuh dewasa, tentu tidak akan ada istilah distress.
Karena bagi anak-anak yang polos, hitam hanyalah sekedar warna baru.
Bukan ancaman.
Showing posts with label deep thought. Show all posts
Showing posts with label deep thought. Show all posts
Sunday, March 7, 2010
Tuesday, January 19, 2010
Life Is
Life can be hard, life can be painful. But life is filled with possibilities, and men are blessed with the chances they've been given. To make it precious, and worth to live for.Pidato singkat Meryl Streep dalam sebuah ajang pemberian award. Great speech, Meryl!
Foggy Images
Pandanganku tentang kesempurnaan dan kebahagiaan sedikit banyak teracuni oleh apa yang aku internalisasi selama ini:
Film-film yang membuat air mata meleleh,
Lagu yang memproyeksikan mimpi dan realita,
Buku si pencipta ambisi,
Juga obrolan ringan namun mensugesti bagai mantra
Idealisme itu, aku rasa, barang bergeser sedikitpun tidak
Namun tanjakan menuju ke sana selalu terombang-ambing dalam ombak mengerikan bernama perubahan
Dan manusia adalah makhluk rapuh yang mudah sekali kehilangan orientasi
Kadang semua itu tampak begitu nyata,
Fluktuasi hormon yang diciptakan begitu membingungkan
Bisa menghasilkan euphoria atau bahkan air mata
Kali ini
Bayang itu agak berkabut juga kabur
Dan anehnya aku tidak begitu memikirkannya
Atau aku kira begitu
Adakah manusia berjalan menyusuri tangga itu tanpa sungguh peduli apa yang berada di atas sana?
Film-film yang membuat air mata meleleh,
Lagu yang memproyeksikan mimpi dan realita,
Buku si pencipta ambisi,
Juga obrolan ringan namun mensugesti bagai mantra
Idealisme itu, aku rasa, barang bergeser sedikitpun tidak
Namun tanjakan menuju ke sana selalu terombang-ambing dalam ombak mengerikan bernama perubahan
Dan manusia adalah makhluk rapuh yang mudah sekali kehilangan orientasi
Kadang semua itu tampak begitu nyata,
Fluktuasi hormon yang diciptakan begitu membingungkan
Bisa menghasilkan euphoria atau bahkan air mata
Kali ini
Bayang itu agak berkabut juga kabur
Dan anehnya aku tidak begitu memikirkannya
Atau aku kira begitu
Adakah manusia berjalan menyusuri tangga itu tanpa sungguh peduli apa yang berada di atas sana?
Tuesday, September 29, 2009
Journal - 23.07.2009
Suasana foodcourt ramai hari itu
Gelak tawa, obrolan, aneka topik diskusi menyatu dalam satu desahan
Meja tempatku dan kawan-kawanku duduk bersama juga sama ramainya
Semua beban pikiran dan ungkapan perasaan tertuang dalam dialog yang terus mengalir
Sesekali terdengar salah satu dari mereka berteriak di tengah tawa renyah
Hmm.. Keakraban gadis-gadis :)
Sementara itu aku menulis dan menulis
Sesekali aku tersenyum mendengar celotehan mereka
Tapi pikiranku sangat ramai!
Mengembara entah ke mana
Entah memikirkan tanggung jawab sebagai ketua acara 5 Agustus nanti
Entah memikirkan HP-ku yang mulai ngadat lagi
Entah memikirkan hari pernikahan tante kesayanganku yang sudah makin dekat
Atau alasan yang paling krusial: bertanya-tanya apakah IPK akan naik atau turun setelah diakumulasi dengan nilai kode etik
Ah, apapunlah itu
Pikiranku sekarang malah banyak terdistraksi oleh independent variable bernama lalu lintas
Di mana dependent variable-nya adalah otakku yang sedang kurang stabil ini!
Sungguh ramai luar biasa keadaan siang itu
"Ramai".
Sudah berapa kali aku menggunakan kata itu dalam tulisan ini
Seolah otakku sendiri belum cukup dipenuhi pikiran-pikiran yang tidak perlu
Sepertinya aku akan tidur saja
Semoga mimpiku tidak akan terlalu ramai
Gelak tawa, obrolan, aneka topik diskusi menyatu dalam satu desahan
Meja tempatku dan kawan-kawanku duduk bersama juga sama ramainya
Semua beban pikiran dan ungkapan perasaan tertuang dalam dialog yang terus mengalir
Sesekali terdengar salah satu dari mereka berteriak di tengah tawa renyah
Hmm.. Keakraban gadis-gadis :)
Sementara itu aku menulis dan menulis
Sesekali aku tersenyum mendengar celotehan mereka
Tapi pikiranku sangat ramai!
Mengembara entah ke mana
Entah memikirkan tanggung jawab sebagai ketua acara 5 Agustus nanti
Entah memikirkan HP-ku yang mulai ngadat lagi
Entah memikirkan hari pernikahan tante kesayanganku yang sudah makin dekat
Atau alasan yang paling krusial: bertanya-tanya apakah IPK akan naik atau turun setelah diakumulasi dengan nilai kode etik
Ah, apapunlah itu
Pikiranku sekarang malah banyak terdistraksi oleh independent variable bernama lalu lintas
Di mana dependent variable-nya adalah otakku yang sedang kurang stabil ini!
Sungguh ramai luar biasa keadaan siang itu
"Ramai".
Sudah berapa kali aku menggunakan kata itu dalam tulisan ini
Seolah otakku sendiri belum cukup dipenuhi pikiran-pikiran yang tidak perlu
Sepertinya aku akan tidur saja
Semoga mimpiku tidak akan terlalu ramai
Tuesday, July 7, 2009
Pemandangan Di Balik Jendela Angkot
Hari Kamis yang lalu aku pergi ke SMP 2 sendiri. Aku pergi naik angkot karena mobilnya sedang dipakai Bunda. Aku senang-senang saja, buatku itu hal yang menyenangkan. Ketika aku sedang sendirian di tengah keramaian kota seperti itu aku merasa lebih dekat dengan semesta. Aku jadi bisa melihat banyak hal yang selama ini tidak pernah kuperhatikan sebelumnya--hal-hal yang tidak kulihat ketika aku berkendara dengan mobil. Seluruh inderaku seolah lebih peka untuk menikmati atmosfer Bandung ini.
Dan pandanganku berhenti di pangkalan becak di pertigaan Pasir Koja. Laju angkot melambat karena seseorang yang duduk di belakang dengan karung besar di kakinya berteriak "Kiri" pada Pak Supir. Sepertinya angkot ini akan berhenti di pangkalan becak tempat mataku tertuju. Di mana semua Mang-Mang Becak tersenyum dan melambaikan tangan pada angkot yang kutumpangi ini, seperti sedang menyambut sesuatu. Wajah mereka tampak semangat dan sumringah. Aku terheran-heran, apa mau ada pawai? Siapa yang mereka sambut ini?
Pria yang duduk di belakang--yang tadi berteriak "kiri", melompat turun dari angkot. Dan beberapa Mang-Mang Becak langsung menghampiri angkot untuk bersama-sama mengangkut karung yang dibawanya. Aku melihat mereka tertawa, menyalami si Pria yang baru turun, dan saling menepuk punggung sambil bersenda gurau. Sungguh pemandangan yang luar biasa sekali.
Aku ingat lima tahun yang lalu di depan SD adikku ada pangkalan becak. Kalau aku berjalan menyusuri pangkalan becak itu aku bisa mendengar keluh kesah mereka. Kira-kira beginilah dialognya,
Mang Becak 1: "Hei, kamu udah dapet berapa?"
Mang Becak 2: "6000. Diem deh, nggak usah nanya-nanya saya dapet berapa."
Mang Becak 3: "Mending dapet 6000. Saya baru 2000. Hari gini 2000 dapet apa? Cuma dapet kerupuk."
Getir sekali ya? 2000 Rupiah untukku bisa dibilang nyaris tidak berarti. Andaikan raib dari dompet pasti aku tidak sadar. Tapi mereka, Mang-Mang becak itu, harus mengayuh dulu setengah kilometer untuk mendapatkan 2000 Rupiah.
Dan aku tekankan lagi, dialog di atas terjadi lima tahun yang lalu. Sekarang keadaan sudah lauh lebih sulit. Harga-harga melonjak lebih tinggi. Orang yang hidup susah makin banyak jumlahnya. Dan hidup jadi makin berat bagi rakyat kecil seperti Mang-Mang Becak itu.
Tapi mereka tertawa. Saling melontarkan gurauan dan terpingkal-pingkal di atas becak mereka. Aku bisa merasakan kehangatan dan keakraban di sinar mata mereka. Mungkin beberapa dari mereka hanya memiliki beberapa lembar ribuan sebagai hasil mengayuh seharian itu, mungkin dari mereka juga ada yang belum makan seharian. Tapi tidak ada seorangpun di antara mereka yang tidak terlibat dalam keceriaan yang mungkin bersifat sementara itu.
Bagaimanapun detik itu aku benar-benar terhenyak. Masih terlintas di pikiranku, apa yang membuat mereka tampak bahagia seperti itu? Apakah karena kedatangan Pria dengan karung besar itu? Apakah mungkin karung itu berisi sesuatu yang nanti akan mereka nikmati bersama? Ataukah memang selalu demikian suasana di pangkalan becak itu? Mungkin mereka memang jenis orang yang selalu menikmati hidup apapun yang terjadi.
Aku tidak tahu. Dan mungkin tidak akan pernah tahu jawabannya.
Tapi apapun itu, yang menciptakan nuansa kekeluargaan di padatnya kota Bandung, di bawah terik matahari, pastilah sesuatu yang amat berharga. Karena bisa membuat mereka tertawa lebar di atas getirnya hidup yang mereka tempuh.
Tak terasa bibirku tersenyum. Masalah-masalahku terasa begitu kecil sekarang. Apalagi yang kukhawatirkan? Mang-Mang Becak saja bisa melupakan masalah mereka dan tertawa bahagia.
Aku bersyukur hari itu memutuskan untuk pergi dengan angkot. Aku tahu aku selalu bisa menemukan dan belajar sesuatu ketika aku membiarkan seluruh inderaku bekerja.
Dan ketika masalah kembali menghantui atau ketika airmataku mulai mengalir lagi, aku akan selalu mengingat pemandangan itu. Pemandangan di balik jendela angkot, di hari yang pahit dan panas, ketika Mang-Mang Becak bersenda gurau bersama :)
Dan pandanganku berhenti di pangkalan becak di pertigaan Pasir Koja. Laju angkot melambat karena seseorang yang duduk di belakang dengan karung besar di kakinya berteriak "Kiri" pada Pak Supir. Sepertinya angkot ini akan berhenti di pangkalan becak tempat mataku tertuju. Di mana semua Mang-Mang Becak tersenyum dan melambaikan tangan pada angkot yang kutumpangi ini, seperti sedang menyambut sesuatu. Wajah mereka tampak semangat dan sumringah. Aku terheran-heran, apa mau ada pawai? Siapa yang mereka sambut ini?
Pria yang duduk di belakang--yang tadi berteriak "kiri", melompat turun dari angkot. Dan beberapa Mang-Mang Becak langsung menghampiri angkot untuk bersama-sama mengangkut karung yang dibawanya. Aku melihat mereka tertawa, menyalami si Pria yang baru turun, dan saling menepuk punggung sambil bersenda gurau. Sungguh pemandangan yang luar biasa sekali.
Aku ingat lima tahun yang lalu di depan SD adikku ada pangkalan becak. Kalau aku berjalan menyusuri pangkalan becak itu aku bisa mendengar keluh kesah mereka. Kira-kira beginilah dialognya,
Mang Becak 1: "Hei, kamu udah dapet berapa?"
Mang Becak 2: "6000. Diem deh, nggak usah nanya-nanya saya dapet berapa."
Mang Becak 3: "Mending dapet 6000. Saya baru 2000. Hari gini 2000 dapet apa? Cuma dapet kerupuk."
Getir sekali ya? 2000 Rupiah untukku bisa dibilang nyaris tidak berarti. Andaikan raib dari dompet pasti aku tidak sadar. Tapi mereka, Mang-Mang becak itu, harus mengayuh dulu setengah kilometer untuk mendapatkan 2000 Rupiah.
Dan aku tekankan lagi, dialog di atas terjadi lima tahun yang lalu. Sekarang keadaan sudah lauh lebih sulit. Harga-harga melonjak lebih tinggi. Orang yang hidup susah makin banyak jumlahnya. Dan hidup jadi makin berat bagi rakyat kecil seperti Mang-Mang Becak itu.
Tapi mereka tertawa. Saling melontarkan gurauan dan terpingkal-pingkal di atas becak mereka. Aku bisa merasakan kehangatan dan keakraban di sinar mata mereka. Mungkin beberapa dari mereka hanya memiliki beberapa lembar ribuan sebagai hasil mengayuh seharian itu, mungkin dari mereka juga ada yang belum makan seharian. Tapi tidak ada seorangpun di antara mereka yang tidak terlibat dalam keceriaan yang mungkin bersifat sementara itu.
Bagaimanapun detik itu aku benar-benar terhenyak. Masih terlintas di pikiranku, apa yang membuat mereka tampak bahagia seperti itu? Apakah karena kedatangan Pria dengan karung besar itu? Apakah mungkin karung itu berisi sesuatu yang nanti akan mereka nikmati bersama? Ataukah memang selalu demikian suasana di pangkalan becak itu? Mungkin mereka memang jenis orang yang selalu menikmati hidup apapun yang terjadi.
Aku tidak tahu. Dan mungkin tidak akan pernah tahu jawabannya.
Tapi apapun itu, yang menciptakan nuansa kekeluargaan di padatnya kota Bandung, di bawah terik matahari, pastilah sesuatu yang amat berharga. Karena bisa membuat mereka tertawa lebar di atas getirnya hidup yang mereka tempuh.
Tak terasa bibirku tersenyum. Masalah-masalahku terasa begitu kecil sekarang. Apalagi yang kukhawatirkan? Mang-Mang Becak saja bisa melupakan masalah mereka dan tertawa bahagia.
Aku bersyukur hari itu memutuskan untuk pergi dengan angkot. Aku tahu aku selalu bisa menemukan dan belajar sesuatu ketika aku membiarkan seluruh inderaku bekerja.
Dan ketika masalah kembali menghantui atau ketika airmataku mulai mengalir lagi, aku akan selalu mengingat pemandangan itu. Pemandangan di balik jendela angkot, di hari yang pahit dan panas, ketika Mang-Mang Becak bersenda gurau bersama :)
Subscribe to:
Posts (Atom)